Pengurangan Porsi FLPP Agar Tak Ganggu Penyaluran KPR

  • 0

Pengurangan Porsi FLPP Agar Tak Ganggu Penyaluran KPR

Category : Berita Terkini

DPD Realestat Indonesia (REI) Komisariat Malang berharap pengurangan porsi fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) oleh pemerintah tidak sampai menganggu realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR).

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Komisariat Malang Umang Gianto mengatakan dengan adanya pengurangan porsi FLPP oleh pemerintah yang saat ini pada posisi 90:10, artinya 90% dari dana pemerintah dan 10% dana perbankan, maka otomatis bank penyalur skema kredit tersebut harus meningkatkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).


Ilsutrasi. – .Bisnis

“Dengan cara itu, maka realisasi penyaluran tetap bisa lancar,” ujarnya di Malang, Selasa (31/1/2017).

Seperti diketahui, wacana pemerintah mengurangi porsi pembiayaan pada skema FLPP diperkirakan baru akan terealisasi awal 2018 karena kajiannya baru rampung akhir tahun lalu.

Direktur PT Sarana Multigriya Finansial Trinadi Yuldrisman mengatakian, sebagai perusahaan pembiayaan sekunder, pihaknya bergerak sebagai alat pemerintah uintuk merealisasikan wacana tersebut.

Menurut Umang, jika bank tidak pintar dalam menghimpun DPK, maka dikhawatirkan alokasi FLPP berkurang. Dengan demikian, bank otomatis tidak leluasa dalam menyalurkan FLPP.

Bank akan lebih selektif dalam menyalurakan KPR.

“Sekarang pun sudah sangat ketat syarat pencairan KPR. Misalnya kalau rumah belum ber-IMB, bank tidak akan merealisaskan KPR. Verifikasi pengembang pada end-user juga makin ketat,” ucapnya.

Dengan DPK yang tidak besar dan pada saat yang sama porsi pemerintah dalam skema pembiayaan FLPP berkurang, maka otomatis akses pembiayaan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memperoleh KPR menjadi sedikit terhambat.

Dengan demikian, target pemerintah untuk memberikan akses seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya kepada MBR untuk memiliki rumah menjadi terganggu.
Dari sisi permintaan, kata Umang, rumah bersubsidi akan terus laku. Apalagi jika lokasinya cukup strategis.

Rumah MBR akan terus diburu konsumen karena merupakan kali pertama kepemilikan. End-user membeli rumah benar-benar memang butuh untuk ditempati, bukan untuk investasi.

Karena itulah, dalam kondisi ekonomi sesulit apa pun, orang akan tetap membutuhkan rumah untuk tetap tinggal.

Karena itulah, bank tentu akan menangkap peluang tersebut dengan memberikan perhatian yang baik bagi debitur KPR, terutama untuk rumah bersubsidi. Bank akan memberikan kuota yang besar untuk pembiayaan rumah MBR.

Menurut dia, di 2017 yang dinilai sebagai tahun yang penuh dengan ketidakpastian, permintaan rumah hunian pertama akan tetap akan tinggi. Konsumen tetap membeli rumah dalam kondisi seperti itu.

“Karena itulah, rumah MBR dan rumah menengah diperkirakan akan tetap laku dan permintaannya karena masyarakat yang membutuhkan rumah masih banyak,” katanya.

Dikutip dari : www.properti.bisnis.com


Leave a Reply